MENGGALI SEJARAH SUNGAI BRANTAS KEDIRI

gambar : www.thearoengbinangproject.com

Masyarakat Kediri tentunya tak asing lagi dengan sungai berantas yang dimana banyak mengandung sejarah atau pun mitos yang tentunya membuat individu masyarakat Kediri memiliki pendapat sendiri – sendiri tentang sungai Brantas. Sungai Brantas sangat erat sekali dengan mitos penampakan buaya putih yang dimana penampakan buaya putih ini mempunyai arti sendiri menurut para masyarakat Kediri terutama sekitar sungai Brantas ada yang berarti positif dan negatif. Memang sampai sekarang belum ada bukti onteknik yang mengarah pada adanya buaya putih di sungai Brantas namun bila ada orang yang tenggelam di sungai berantas entah karena kelalaian atau kurang hati – hati cenderung disangkut pautkan dengan buaya putih. Mitos buaya putih ini merupakan cerita masyarakat setempat yang berawala dari Bandung Seketi yang terletak di aliran sungai Brantas kecamatan kras Kediri cerita ini bermula dari persahabatan dari manusia dengan buaya putih yang dimana setiap kali manusia mengadakan hajatan selalu minta tolong untuk memenuhi kekurangan dalam hajatan tersebut seperti peralatan dapur : sendok, piring dan peralatan pecah belah lainya namun sifat manusia yang rakus akhirnya peralatan tersebut disembunyikan dan tidak dikembalikan dan akhirnya sang buaya putih mengamuk sampai sekarang dan cerita ini berawal pada tahun 1970.

Sungai Brantas juga mempunyai mitos yang unik percaya atau tidak kebanyakan para pemimpin adikuasa yang melewati atau menyeberangi sungai Brantas akan lengser maka dari itu sangat minim para pemimpin adikuasa di Indonesia berani menyeberangi sungai Brantas karena takut akan kutukan sungai Brantas percaya atau tidak ini yang beredar di kalangan elit politik dan istilah ini dinamakan Lengser Keprabon.

Sungai Brantas juga mempunyai sejarah yang dimana dulu ada sebuah kerajaan besar yang bernama kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Prabu Airlangga yang berasal dari Bali dan Raja Airlangga hanya mempunyai satu anak perempuan yang bernama Sanggrawawijaya setelah hari, bulan tahun berlalu maka Sang Raja pun sudah tua dan ingin menjadi Pertapa sehingga seluruh kekuasaannya diserahkan pada anaknya yanga bernama Sanggrawawijaya namun Sanggrawawijaya pun tak mempunyai keinginan untuk menjadi raja dan akhirnya menolaknya dan Sanggrawawijaya lebih suka menjadi pertapa dan bertapa di gunung Klotok yang sekarang dikenal dengan Goa Selomangkleng yang nama Sanggrawawijaya dirubah menjadi Dewi Kilisuci. Akhirnya sang raja menyerahkan kerajaan Kahuripan kepada anak selirnya yang mempunyai dua putra yang bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan agar tidak terjadi perpecahan Sang Prabu Mengutus Empu Barada untuk meminta tahta kerajaannya ayahanda Prabu Airlangga namun sudah terlanjur di serahkan pada Adik Parbu Ayahanda Airlangga dan akhirnya Empu Barada melaporkan situasi di kerajaan Ayahanda Prabu Airlangga. Sikat cerita akhirnya kerajaan Kahuripan dibagi menjadi dua dan pembagian kerajaan Kahuripan diserahkan pada Empu Barada dengan cara sang Empu Barada Terbang Kelangit dengan membawa Kendi yang berisikan air dan lansung menupahkanya dari langit dan jatuh di tanah di kerajaan Kahuripan yang menjadi sungai dan sekarang menjadi sungai Brantas dan pembagian kerajaannya Kahuripan sebelah timur sungai Brantas diserahkan pada Putra Mapanji Garasakan yang bernama kerajaan Jengala sedangkan sebelah Barat Sungai Brantas diserahkan pada Sri Samarawijaya yang kerajaannya bernama Kerajaan Panjalu ( kadiri / kota Kediri ).

Sungai berantas merupakan sungai terpanjang no dua setelah sungai Bengawan Solo di jawa timur, sungai Brantas bermata air di desa Sumber Brantas kota Batu yang merupakan simpanan air Gunung Arjuno yang mengalir ke Malang, Kediri, Mojokerto, Jombang, Blitar dan Tulungagung sedangkan untuk DAS seluas 11.800 dari luas Provinsi Jawa Timur dan panjang sungai utama 320 Km mengalir melingkari gunung Kelud Kediri. Sungai Brantas pada musim kemarau juga mengalami kekeringan tapi di musim penghujan sungai Brantas bisa meluap dan tentunya tidak sedikit berjatuhan korban harta yang terserat arus sungai Brantas dan korban nyawa yang terutama yang rumahnya terlalu dekat dengan sungai Brantas. Di tahun 760 M sungai Brantas sangat dibutuhkan untuk pertanian dan petani sangat makmur karena peran sungai Brantas sebagai Irigasi persawahan yang sebagai bukti peninggalannya Candi Badut dan Prasasti Dinoyo.

 

178 total views, 1 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *