Toha Mohtar

Mungkin banyak dari warga Kediri yang tidak tahu bahwa Kediri memiliki tokoh sastra yang hebat yang telah melahiran karya-karya yang terkenal berskala nasional. Beliau adalah Toha Mohtar, lahir di Ngadiluwih Kediri pada tanggal 17 September 1926. Beliau adalah anak kedua. Ayahnya bekerja sebagai seorang penghulu.  Toha Mohtar menikah dengan Tjitjih Sudarsih, seorang janda yang berasal daari Tasikmalaya pada tahun 1955. Mereka dikaruniai 3 orang anak yaitu Elly Taswelli, Sasongko Dumadi dan Tomang Suselo. Mereka juga memiliki anak angkat bernama Gutomo.

Toha Mohtar hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMA pada tahun 1947. Toha Mohtar hanya sempat mengenyam pendidikan sampai kelas dua SMA pada tahun 1947. Tahun 1950 ia pindah ke Jakarta dan memulai hidupnya dari awal yang pahit. Sebelum menekuni profesinya sebagai sastrawan, ia menjalani berbagai profesi, antara lain sebagai perancang grafis dan ilustrator buku. Ilustrasinya menghiasi beberapa majalah, seperti dalam majalah Roman, Aneka, Terang Bulan, Tegang, dan Nasional. Ketika itu ia sempat menulis beberapa judul cerita pendek dan menyadur cerita detektif. Kemudian, ia bekerja sebagai korektor majalah Jayabaya. Tahun 1952–1953 ia bekerja sebagai redaktur majalah Ria dan tahun 1972–1983 berhasil menerbitkan majalah anak-anak Kawanku bersama kawannya Julius R.S. dan Sutedja. Sehubungan dengan hobinya yang suka menggambar, ia bekerja sebagai guru Menggambar di sekolah Taman Siswa tahun 1954–1959. Selain itu, ia juga pernah bekerja di Perusahaan Film Negara (PFN) dan menerima pesanan membuat gambar poster berukuran besar untuk karnaval atau lomba dekorasi pada perayaan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Pada tahun 1971 kariernya sebagai penulis mulai meningkat. Dia terkenal sebagai penulis yang jujur, disiplin, dan tegas karena pernah bekerja sebagai pegawai sipil di salah satu dinas kemiliteran. H.B. Jassin dalam bukunya yang berjudul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai II menyatakan bahwa Toha Mohtar melalui karyanya telah memberikan suatu pembaharuan dan menyajikan karya sastra yang segar pada masa itu, yang belum pernah diberikan penulis novel di Indonesia. Dengan modal kejujuran, seperti yang tercermin dalam karya-karyanya, ia telah menunjukkan kepada khalayak bahwa hidup ini hendaknya disyukuri dan dilalui dengan baik dan jujur. Di antara beberapa karyanya, novel yang berjudul Pulang (1958) menarik perhatian pembaca, terutama di kampus Universitas Indonesia dan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, dan berbagai perguruan tinggi lainnya. Beberapa kritik dan tanggapan tentang novel Pulang antara lain artikel yang berjudul (1)”Pulang: sebuah novel Toha Mohtar” karya Masran bin Sabran (Fakultas Sastra Universitas Nasional, Jakarta, 1975); (2) “Novel Pulang sebagai Tanggapan terhadap Keadaan Sosial” karya Sunu Wasono (Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1985; (3) “Karya-Karya Toha Mohtar Sebagai Hasil Sastra dan Penerapannya di SLTA” karya Djoemilah (Fakultas Keguruan Sastra dan Seni, IKIP Jakarta, 1970); (4) “Gaya Prismis dalam Pulang Karya Toha Mohtar” karya Pudentia T. Karnadi, dalam Basuki Soehardi dan Muhadjir (Editor), Seri Penerbitan Ilmiah Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 1983; dan (5) “Biografi Pengarang Toha Mohtar” karya Saksono Prijanto (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1995). Hasil karya Toha Mohtar antara lain sebagai berikut. (1) Pulang (novel, Jakarta: PT Pembangunan, 1962) memperoleh hadiah penghargaan dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), (2) Daerah Tak Bertuan (novel, Jakarta: Pustaka Jaya, 1963) memperoleh Hadiah Sastra Yayasan Yamin, (3) Novel Kabut Rendah (Jakarta: Budajata 1968), (4) Salah Langkah Bukan Karena Aku (novel, Jakarta: Jambatan, 1968), (5) Antara Wilis dan Gunung Kelud (novel, Jakarta: Jambatan, 1969), dan (6) Jayamada (novel, Jakarta: Pustaka Jaya, 1971) yang ditulis bersama Soekanto S.A. Menjelang akhir hayatnya, Toha Mohtar masih menulis beberapa novel yang belum sempat terbit, yaitu “Pelarian”, “Pembebasan”, dan “Berita dari Daerah Pinggir”.

Pada masa tuanya, Toha Mohtar menderita penyakit paru-paru. Dia meninggal tanggal 17 Mei 1992 di Rumah Sakit Mitra, Jakarta. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman Melaka, Jakarta. Semasa hidupnya, Toha Mohtar memeluk agama Islam. Sifatnya yang humoris banyak mewarnai karya-karyanya.

 

http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id

 

49 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *