LARUNG SESAJI GUNUNG KELUD

Selain keindahan panorama alamnya ternyata Gunung Kelud juga menyuguhkan ritual tahunan yang mengundang banyak wisatawan baik lokal maupun luar Kota Kediri bahkan mancanegara. Ritual yang dilakukan warga sekitar Gunung Kelud ini merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahunnya pada saat bulan Suro atau bulan Muharram. Ritual ini adalah ritual adat larung sesaji. Upacara adat ini biasa diadakan di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.

Upacara adat ini didatangi oleh berbagai kalangan masyarakat, khususnya para penganut Hindu dari Bali, Yogyakarta, Surabaya dan Semarang. Awalnya acara larung sesaji ini diadakan di kawah Gunung Kelud, namun karena lokasi kawah baru saja mengalami erupsi di tahun 2014 lalu, maka ritual larung sesaji diadakan di bibir kawah. Rencananya ditahun ini, ritual adat ini dapat kembali digelar di kawah Kelud yang saat ini mulai kembali terisi air seperti sebelum letusan 2007. Untuk itu pemerintah akan mengebut pengerjaan normalisasi pasca erupsi 2014.

Menurut warga setempat, larung sesaji ini dimaksudkan untuk menolak bala kemarahan Lembu Suro, salah satu punggawa kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting putri Raja Kadiri yaitu Dewi Kilisuci. Namun bagi umat Hindu sendiri, ritual suci ini diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi, dan juga bentuk rasa hormat pada penguasa Gunung Kelud.

Berbagai macam sesaji dibawa dalam ritual suci ini. Ada beberapa gunungan sesaji berisi hasil kekayaan alam atau hasil bumi dari lereng Gunung Kelud, seperti buah nanas, ubi, nangka, pisang. Selain gunungan hasil bumi, masyarakat setempat biasanya juga membawa dua jenis tumpeng, yakni tumpeng nasi putih dan kuning. Tumpeng ini dilengkapi dengan aneka lauk-pauk, seperti telur, tahu, tempe, urap, parutan sambal kelapa dan masih banyak lagi. Menariknya, semua sesaji ini dihias dan ditata sedemikian rupa sehingga berbentuk menyerupai ayam jago.

Semua makanan yang dibawa oleh warga kemudian dikumpulkan di tengah. Mereka duduk mengelilinginya sembari mendengarkan pemangku adat membacakan doa. Setelah selesai didoakan, mereka akan berbondong-bondong memperebutkan sesaji berupa makanan tradisional, hasil bumi, sayur-sayuran dan buah-buahan.

646 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *